Home / pendidikan / Remaja: Cinta Sebagai Tempat Berkembang, Bukan Tertinggal

Remaja: Cinta Sebagai Tempat Berkembang, Bukan Tertinggal

Oleh: Agha Abitha Ismanto

(Ketua OSIS SMP Alam Planet NuFo (Nurul Furqon) & Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia Kabupaten Rembang)

Opeknews.com — Sosok Fajar Labatjo atau yang karib disebut Fajar Sadboy sempat viral di media sosial karena kisah cintanya yang menarik simpati. Remaja berusia 15 tahun ini mampu membuat orang-orang tertarik dengan kepiawaiannya dalam mengukir ungkapan-ungkapan  atau yang biasa kita sebut quotes of the day.

Dalam kasus tersebut Fajar memperlihatkan kerinduannya terhadap kekasihnya yang tidak kunjung membalas chatnya dari bulan Oktober lalu, kemudian dia diundang di salah satu kanal Youtube, dari situlah mulai terkenal nama Fajar Sadboy yang sampai sekarang quotes-nya masih sering digunakan. Tapi, dalam kasus Fajar tersebut menuai beberapa komentar dari beberapa ahli.

Fenomena Remaja

Dosen Psikologi UHAMKA Anisia Kumala menyampaikan, bahwa kesedihan Fajar terlalu dramatis. Dia menjelaskan bahwa manusia memiliki 2 tipe emosi, yaitu: emosi positif seperti, bahagia dan cinta. Sedangkan emosi negatif seperti, marah dan sedih. Namun, jika hal tersebut dikeluarkan secara berlebihan maka akan berakibat destruktif yang akan menghancurkan dirinya sendiri bahkan orang lain di sekitarnya. Melampiaskan emosi memang fitrah bagi manusia, tetapi berbeda jika dilakukan secara berlebihan. Manusia diberikan akal untuk berfikir, otomatis mereka akan mengetahui bagaimana cara untuk menahan dan mengontrol atau meregulasi emosi tersebut. (liputan6.com)

Sedangkan Kriminolog dari Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan dari Tindak Kekerasan, Pratista Indonesia, Haniva Hasna memberikan tanggapan positif dan negatif terkait kasus Fajar Sadboy. Ia menyebutkan bahwa jika seseorang menangis merupakan hal yang lumrah bagi setiap manusia, tidak peduli apa gendernya. Laki-laki yang cenderung sering menangis sering dianggap cengeng dan lemah. Laki-laki yang kerap diajarkan untuk tidak menunjukkan tangisnya hal itu bisa memicu gejala yaitu toxic masculinity atau tekanan bagi kaum pria untuk bersikap dan berperilaku tegar. Hal ini bisa menyebabkan zat kimia stress menumpuk. Air mata befungsi sebagai pembantu untuk menghilangkan zat stres tersebut. (liputan6.com)

Manusia di masa remaja sedang berada dalam fase dreaded atau menyeramkan, masa unrealism masa topan dan badai yang ditandai dengan penuh emosi dan meledak-ledak. Emosi ini adakalanya dapat meyulitka remaja, namun bisa berguna menjadi fase menemukan jati diri. Fenomena Fajar sebagai sadfishing, yang merupakan ungkapan emosional yang dilakukan secara sengaja, seperti kesedihan, kesulitan, dan keluhan dengan tujuan mendapat simpati atau perhatian dari orang lain. Sadfishing merupakan hal yang lumrah dilakukan bagi setiap orang yang merasa terganggu secara emosional, sedang mengalami kesulitan bahkan pura-pura sulit.

Sadfishing menuai dampak negatif bagi pelakunya, yang memberikan stigma negatif kepada pelaku sadfishing tersebut. Stigma negatif juga akan muncul kepada pelaku si pembuat duka lara seorang fajar. Yang dalam hal ini, orang lain yang memberikan stigma negatif tidak mengetahui kebenaran berita tersebut. Mereka akan berlaku acak dan implusif, dan hal ini juga memicu yang namanya cyberbullying.

Kondisi ini akan menambah beban berat bagi pelaku, yang awalnya hanya bermasalah dengan diri sendiri berkelanjutan menjadi korban cyberbullying dan stigma masyarakat.

Di dunia disrupsi teknologi, anak-anak seperti Fajar lahir. Di era disrupsi segala media menjadi mudah untuk diakses yang bisa mengakibatkan penyalahgunaan yang bersifat merugikan baik diri sendiri maupun sekitarnya.

Sementara itu, mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto menilai, viralnya Fajar membuat miris dengan siaran televisi saat ini, sehingga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu lebih mengawasi setiap program siaran televisi. Program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan remaja. (jurnalindo.com)

Langkah Perbaikan

Uraian dari para pakar terhadap fenomena remaja Fajar tersebut, setidaknya menyimpulkan bahwa, pertama, emosi negatif berupa marah dan sedih, semestinya dikeluarkan tidak secara berlebihan, hal itu untuk mengindari akibat yang destruktif yang akan menghancurkan dirinya sendiri bahkan orang lain di sekitarnya. Sebab, melampiaskan emosi memang fitrah bagi manusia, tetapi berbeda jika berlebihan. Karena itu, manusia perlu memaksimalkan fungsi akalnya untuk berfikir, dengan demikian secara otomatis mereka akan mampu untuk menahan dan mengontrol atau meregulasi emosi tersebut.

Kedua, terkait dengan menangisnya seseorang, merupakan hal yang lumrah bagi setiap manusia, tidak peduli apa gendernya. Manusia di masa remaja sedang berada dalam fase dreaded atau menyeramkan, masa unrealism masa topan dan badai yang ditandai dengan penuh emosi dan meledak-ledak. Emosi ini adakalanya dapat meyulitka remaja, namun demikian justru bisa berguna menjadi fase menemukan jati diri.

Fenomena Fajar sebagai sadfishing, merupakan ungkapan emosional yang dilakukan secara sengaja, seperti kesedihan, kesulitan, dan keluhan dengan tujuan mendapat simpati atau perhatian dari orang lain. Tentu saja harus dihindarkandampak negatif bagi pelakunya, yang memberikan stigma negatif kepada pelaku sadfishing tersebut. Apalagi kondisi ini akan menambah beban berat bagi pelaku, yang awalnya hanya bermasalah dengan diri sendiri berkelanjutan menjadi korban cyberbullying dan stigma masyarakat.

Ketiga, dari kasus ini pihak terkait perlu mengawasi setiap program siaran televisi. Program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan remaja.

Dengan demikian, persoalan cinta bagi remaja semestinya menjadi tempat perkembangan yang positif, bukan untuk sikap menyerah dan tertinggal. (*)

About agusismanto

Check Also

Beri Hibah Puluhan Miliar untuk CSR, Nadiem Dapat Kritikan Kalangan Pendidikan

opeknews.com — Mendikbud Nadiem Makarim memberikan dana hibah puluhan miliar kepada Yayasan Bhakti Tanoto dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *